Artikel

MUNGKIN!!!!

MUNGKIN!!!!

OLEH : ANDI IRWAN FIRDIANSYAH (AIF)

 

Ketika suara tidak lagi didengarkan, merasa mampu atas segala sesuatunya, sastra adalah satu-satunya cara untuk berbicara. Menulis adalah suatu cara untuk berkata-kata, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah kreativitas ditimbang-timbang. Bagaimana mungkin sesorang masih dapat terpaku dengan realitas yang sama?, sama halnya dengan lelucon yang kita tidak akan tertawa dua hingga ketiga kalinya terhadap lelucun yang sama, tetapi bagaiman bisa seseorang tetap melakukan hal bodoh berulang-ulang kali dan itu tetap sama hingga tak mengganggunya! Sungguh mau sampai mana batas sewajarnya orang sabar terhadap kekeliruan? Dan seberapa indah mimpi kalian, jika tetap berada dalam mimpi saja?

            Seperti catatan Soe Hoek Gie “orang yang tidak tahan dan hidup tanpa mau kritikan serta saran, pantas masuk kerangjang sampah” begitulah demikian sewajarnya. Dan seperti Gie kita bisa saja secara lebih sadar lagi melihat realitas ketimpangan diri kita yang begitu penuh ketidaktahuan dan rasa sok bisa atas segala sesuatunya. Sejarah sangat penting dalam penentuan arah kehidupan seperti kata Soekarno “jangan sekali-kali melupakan sejarah” karena dengan sejaralah kita belajar akan ketidaktahuan, ketertinggalan dan segala ketidakberdayaan kita. Perlu dicatat bahwa sejarah juga perlu diabadikan lewat dokumentasi dan penghayatan nilai, seolah belajar menulis menagkap momen dengan penghayatan paling total yang paling penting dilakukan oleh manusia dewasa ini dalam mendokumentasikan sejarah yang seolah terlewatkan begitu saja. Tetapi kemudian itulah yang kadang orang lain tak mau menerima kebenaran sejarah yang kita miliki yah walaupun bersifat subjektif, tetapi kadang kita tidak menyadari bahwa dengan itulah kita menarik “nilai”.

Sifat superior individu terkadang mengingkari eksistensi mereka sendiri bahwa sahnya kita adalah makhluk sosial yang juga butuh “ruang hidup”, dari sikap superior masing-masing individu yang merasa mampu akan segalanya sudah terlalu banyak kata didunia ini yang lahir tak bertuan hanya sebagai kebohongan pembenaran eksistesi yang katanya “kecerdasan” tapi tenyata itu semua tidak merubah apa-apa. Lagi pula yang terjadi sekarang siapakah yang masih sudi mendengarnya? Dilingkungan kita semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mau mendengar kata-kata orang lain.  Mungkin sedikit sadar dan membaca akan membantu kita menelaah “nilai” “sejarah”, karena dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak “masuk akal” masih terus saja berlangsung. Contohnya saja seorang fotografer ingin membagi duka dunia dibalik hal-hal yang kasat mata… para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang fotonya ternyata “buta” meskipun mempunyai mata. Keajaiban dunia adalah suatu ironi, didepan kemanusiaan yang terluka, manusia lainnya masih bisa tertawa.

            Mungkin “kita” tahu bahwa gambaran/realitas yang tertatap oleh mata bisa sangat mengecoh pemikiran dalam kepala: bahwa kita merasa menatap sesuatu yang benar, padahal kebenaran itu terbatasi sudut pandang dan kemampuan indra. Apalah  daya kita kini lebih senang bercanda gurau dengan slogan-slogan yang hanya mengenakkan hati sebahagian orang saja atau mungkin kita sebut saja diri kita lebih “atheis” daripada orang “atheis” itu sendiri. Mungkin memang kita semua telah menjadi bodoh, dengan menjadi terlalu cinta kepada cerita-cerita yang bagus dan hanya memiliki unsur fiktif belaka dengan happy endingnya, sehingga kita terus-menerus berkhayal untuk menjadi kenyataan itu sendiri.

MUNGKIN kita berasal dari sebuah “negeri” yang resminya sudah bebas buta huruf, namun yang dipastikan ‘’masyarakatnya’’ sebagian besar belum membaca secara benar yakni “membaca” untuk memberi makna dan meningkatkan ‘’nilai” kehidupannya. “NEGARA” kita adalah masyarakat yang membaca hanya untuk melihat “dunia” yang tidak penting, membaca untuk harga-harga maupun nominal, membaca untuk melihat ‘’lowongan pekerjaan’’, membaca dongeng kekinian, dan akhirnya hanya membaca opera sabun ditelevisi untuk sekedar mendapat hiburan, tapi inilah semua “NEGERI KITA”.

Atau mungkin juga dewasa ini pemuda-pemudi “negeri” ini telah “rajin” membaca, yang dimana kita sedang terjatuh dilingkaran “buku’’ bernuansa cinta, sedangkan kita tidak mengetahui bahwa “negeri’’ ini sedang dilanda kejamnya huru-hara. Kita belum mengetahui jahatnya seorang penulis ‘’buku’’ cinta yang perlahan-lahan mengkonsep pola hidup “kita”. Seakan penulis dijadikan “Tuhan” dalam kehidupan, setiap kalimat dalam “bukunya” dijadikan kiblat kehidupan “kita”. MUNGKIN mulai sekarang tolong hentikanlah angan akan cinta indah seperti fiksi yang kau “baca”. “NEGERI” ini tidak butuh peran utama dalam “buku” bernuansa cinta, kejamnya huru-hara yang tengah melanda “negeri” ini, apakah akan sama dengan “buku” yang semalam kau baca? Yang di akhir ceritanya semua akan berakhir fantastis?.

            Mungkin aku telah lelah dengan ‘’negara” ini dan mungkin aku ingin sedikit mengucapkan, selamat datang di”negeri” jenaka ini!!

Jikalau memberi maka kau teruka.

Pendidikan moral diinjak-injak suka-suka.

“NEGERI” ini makin lama dibanjiri duka.

Kuat-kuat berdiri, lalu diadili.

Sudah habis senang, justru ditendang.

Hak asasi dijadikan altar EGO.

Salah sedikit, maka taka da kata nego.

 

Saat moral berserakan dimana-mana.

Taka da yang rela jadi tuannya.

Otak-otak diotak-atik.

Diperbodoh dengan cantik.

Cubit saying dijadikan konflik.

Masalah lain dikemas dengan baik.

 

 

 

Mereka hanya bisa tertawa.

Tanpa ada jiwa, mereka begitu jenaka.

Ya inilah memang yang namanya jenaka.

Meski tanpa “ada” yang bahagia.

Tak ada lucunya, hanya saja mereka “tertawa”.

 

Mereka bungkam dan aku setengah mati.

Mereka diam bak lugu tak paham hati.

Kalau ini drama, kita adalah nominasi pendusta.

Bersandiwara sebagai bukan siapa-siapa.

Sementara lakonmu adalah pembuat luka.

 

Aku tahu benar yang enkau tunggu adalah; waktu.

Mengulurnya terus bergulir lama.

Hingga ada ikhlas yang cukup dibibirku.

Untuk menyapamu seperti biasa.

Dan hal buruk tentangku hanya jadi sekedar cerita!!!

Mungkin sedikit kutipan “Buya Hamka” akan menyadarkan kita, Mungkin!!

“Kalau hidup hanya sekedar hidup, Babi dihutan juga hidup. Kalau Bekerja hanya sekedar bekerja, Kerapun juga bekerja”.

 

Semoga tak terjadi dan semoga saja!!

“Kalimat ini hanya akan menjadi usang.

Didalam mimpi yang dikenang.

Dan mungkin tak akan pernah kau ingat.

Sampai nanti kau akan merasa tersesat”.

#