Artikel

Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

OLEH : RAHMASARI. N (2016)

Pada tahun 1945, kemerdekaan negara Indonesia diproklamirkan oleh dua pemimpin bangsa, yakni Soekarno dan Muh. Hatta. Meskipun telah bebas dari penjajah dan diakui kemerdekaannya oleh negara lain, tanggung jawab masyarakat Indonesia dalam mempertahankan dan membangun bangsa ini tidak boleh terhenti. Masih ada banyak tantangan kedepannya. Kondisi negeri kita saat ini pun masih belum dapat terlepas dari masalah kemiskinan, korupsi, kesenjangan sosial, dan masalah lainnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2016, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen). Bredasarkan hal tersebut, dibentuklah program 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

Hadirnya program 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, negara Indonesia mencanangkan sebuah visi besar yakni “Menuju Indonesia Emas 2045”. Indonesia emas dimaknai dengan kondisi negara yang maju, makmur, dan modern. Indonesia Emas juga dapat diinterpretasikan sebagai masa kejayaan bangsa Indonesia yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Ditahun 2045, ekonomi Indonesia akan memasuki sebuah masa dimana Indonesia akan mengatur perekonomian dunia dengan pendapatan per kapita sebesar US$ 12.616 atau lebih (World Bank, 2013). Oleh karena itu,untuk menuju Indonesia Emas 2045, dibutuhkan perencanaan yang komprehensif di segala sektor pembangunan, termasuk SDM Indonesia. Saat ini, ada sekitar 230 juta penduduk yang tinggal di Indonesia. Jika dilihat pada piramida penduduk dalam kurun waktu 2015-2045, akan sangat ideal dengan penduduk mayoritas 15-45 tahun, usia produktif. Oleh karena itu, pekerjaan mewujudkan Indonesia Emas 2045 membutuhkan kerja sama segenap rakyat Indonesia, terutama generasi-generasi muda. Lantas, bagaimana kondisi generasi muda saat ini menuju Indonesia Emas 2045 ?

Generasi muda saat ini – Problematika dan Tantangan dan Solusi

            Generasi muda sejatinya adalah tombak pembawa perubahan bagi bangsa Indonesia. Pemuda seharusnya memiliki ideologi kebangsaan agar rasa nasionalisme, patriotisme, dan idealisme terpatri dan menjadi salah satu prinsip kehidupan. Pemuda yang berideologi kebangsaan senantiasa akan berusaha untuk terus belajar agar kelak siap menjadi penerus bangsa yang baik.

Jika dilihat, pemuda-pemudi generasi sekarang sangat berbeda dengan generasi terdahulu dari segi pergaulan atau sosialisasi, cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah. Pemuda-pemuda zaman dahulu lebih berpikir secara rasional dan jauh ke depan. Dalam arti, mereka tidak asal dalam berpikir maupun bertindak, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan mengkajinya kembali dengan melihat dampak-dampak yang akan muncul dari berbagai aspek. Pemuda zaman dahulu juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Contohnya, sejarah telah mencatat kiprah-kiprah pemuda Indonesia dalam memerdekakan negara ini. Bung Tomo, Bung Hatta, Ir. Soekarno, Sutan Syahrir, dan lain-lain rela mengorbankan harta, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan bersama, yaitu kemerdekaan Indonesia. Sedangkan pemuda zaman sekarang, masih terkesan acuh terhadap masalah-masalah sosial di lingkungannya. Pemuda-pemuda saat ini telah terpengaruh dalam hal pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika. Data Badan Narkotika Nasional menunjukkan bahwa di tahun 2016, 22 persen pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Selain itu, kenakalan remaja, bahkan kemajuan teknologi pun yang seharusnya membuat mereka lebih terfasilitasi untuk menambah wawasan ataupun bertukar informasi justru malah disalahgunakan. Tidak jarang kaum-kaum muda saat ini yang menggunakan internet untuk hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan seorang pemuda.

Adapun dari berbagai pendapat dan fakta diatas, harus kita sadari bahwa peran generasi muda sekarang ini jauh sekali dengan generasi zaman dahulu (sebelum kemerdekaan dan sesudah). Hal itu dapat kembali kita lihat penurunan dari kreatifitas dari generasi muda sekarang ini dalam upaya peningkatan kualitas dari bakat maupun minatnya serta rasa toleransi terhadap permasalahan sosial yang muncul di tengah-tengah masyarakat, memang bangsa kita telah terbebas dari penjajahan tetapi sekarang ini bangsa kita dihadapkan pada penjajahan baru, yaitu korupsi, kolusi, nepotisme, pergaulan bebas remaja, narkoba dan sebagainya.

Realitas yang tidak dapat kita pungkiri ini akan jadi apa nantinya generasi muda kita nantinya ?, apakah mereka akan mengikuti dari arus zaman yang sekarang ini mereka hadapi? Problematika sekaligus tantangan yang begitu berat dan demikian banyak itu generasi muda sebagai generasi penerus bangsa menuju satu abad ini diharapkan sadar akan pentingnya kembali menjaga semangat kebangsaan.

Menyadari begitu banyaknya problematika dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda saat ini lantas tidak membuat kita hanya berpangku tangan dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Kita harus berpikir dan bertindak mengenai solusi dari problematika tersebut. Telah dijelaskan sebelumnya tentang pentingnya ideology kebangsaan yang seharusnya dimiliki setiap generasi muda kini mulai luntur bahkan sama sekali menghilang. Lalu, dapatkah kita mengembalikan atau menumbuhkan kembali ideology kebangsaan itu?

Jawabnya, ya. Kita harus bersikap optimis ketika hendak melakukan perubahan. Lantas, usaha apa yang perlu dilakukan?.

  • Pendidikan karakter sehaursnya jauh lebih diutamakan dibandingkan yang lebih bersifat konstruktif (misalnya mipa). Mari ambil contoh di Jepang dan Finlandia dimana murid yang setara murid TK dan SD lebih diarahkan pada pengembangan karakter.
  • Pembelajaran tentang PKn dan agama seharusnya tidak menjadi mata pelajaran “pelengkap” disekolah. Sebaliknya, mata pelajaran PKn dan Agama merupakan pelajaran pembentukan karakter seharusnya lebih digalakkan.
  • Apa pun mata pelajarannya, pada saat memulai pelajaran, para guru menyisipkan tentang pentingnya memiliki jiwa nasionalisme dan patriotism dan pentingnya masa depan mereka agar siswa lebih termotivasi belajar.
  1. Orang tua

Orangtua memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter anak. Berikan contoh yang baik kepada anak, seperti kedisiplinan, tanggung jawab, tenggang rasa, kejujuran, dsb.

  1. Media

Media harusnya tidak mementingkan keuntungan dengan menayangkan berbagai program tv yang sama sekali tidak memberi manfaat bagi generasi muda. Bahkan, program tv saat ini lebih banyak menanyangkan program yang tidak mendidik.

  1. Pemerintah

Pemerintah perlu memberikan kebijakan dalam menunjang kembali sifat nasionalisme generasi muda ini.

 

Dengan melihat kondisi generasi muda saat ini, terdapat beberapa perbedaan dengan pemuda-pemudi baik di era sebelum maupun setelah era proklamasi kemerdekaan. Sehingga, dalam bergerak bersama rakyat menuju satu abad Indonesia yang memiliki visi menjadikan Indonesia Emas 2045 ini, perlu dilakukannya upaya-upaya dalam mengembalikan kesadaran berbangsa. Perlu diingat bahwa sumber daya manusia terutama generasi muda lah pemegang kendali dalam membawa satu abad Indonesia menjadi Indonesia yang makmur, dan sejahtera.

#